" Treat the earth well, it was not given to you by your parents, It was loaded to you by your children "


Sabtu, 30 Oktober 2010

Friday Story.....( semoga menginspirasi kita )

Dikisahkan....Yu Timah yg bertetangga dgn seorang staf dr salah satu BPR Syariah (bpk.X) di satu kota kecil.
Yu Timah salah seorang penerima SLT (Subsidi Langsung Tunai) yg kini sdh berakhir. 4x menerima SLT selama 1 thn jumlah uang yg diterima Yu Timah dr pemerintah sebesar 1,2 jt. Yu Timah adalah penerima SLT yg sebenarnya. Rumahnya berlantai tanah, dinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri, bahkan status tanah pun bkn miliknya.
Usia Yu Timah sekitar 50 thn, berbadan kurus, tdk menikah & sebatang kara.

Dulu stlh remaja Yu Timah bekerja sbg pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun seiring usianya yg bertambah, tenaganya tdk laku lg di pasaran PRT. Lalu dia kembali lagi ke kampungnya. Para tetangganya bergotong-royong membuatkan gubuk utk Yu Timah bersama emaknya yg sdh renta. Gubuk tsb didirikan diatas tanah tetangga yg bersedia menampung anak & emak yg sgt miskin itu.
Meski hidupnyasgt miskin Yu Timah tetap mandiri dgn brjualan nasi bungkus yg pembeli tetapnya adalah para santri yg mondok di pesantren sekitarnya. Tentunya hasil dr berjualan tdk seberapa tp Yu Timah tetap bertahan selama bertahun-tahun hidup bersama emaknya.
Setelah emaknya wafat, Yu Timah mengasuh kemenakannya. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini jaman apa. Anak itu hrs cari makan & dia tersedot arus perdagangan PRT dan lagi2 terdampar di Jakarta. Sudah 4 thn ini Yu Timah hdp sebatang kara & mencukupi kebutuhan hidupnya dr berjualan nasi bungkus.

Satu hari Yu Timah dtg ke rmh bpk.X. Bpk.X sdh mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah msh bs menabung di BPR Syariah dimana bpk.X ikut sbg pengurusnya. Tp Yu Timah tdk pernah mau dtg ke ktr BPR Syariah tsb dgn alasan malu sebab dia org miskin & buta huruf. Dia menabung Rp. 5.000 atau Rp. 10.000 setiap bulannya. Namun stlh menjadi penerima SLT YU Timah bs setor tabungan hingga Rp. 250rb & sejak itu Yu Timah terlihat memakai cincin emas.
Utk seorang Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri.
Saldo terakhir Yu Timah sebesar Rp. 650rb. Yu Timah setiap berhadapan dgn bpk.X selalu menjauh dan bersimpuh di lantai walaupun selalu dicegahnya.
" Pak, saya mau mengambil tabungan." kata Yu Timah dgn suaranya yg kecil.
"Oh, tentu bisa. Tapi ini hr Sabtu & sdh sore dan Bank sdh tutup, bgmn bila Senin?" jawab bpk.X
" Senin jg tdk apa2. Saya tdk tergesa-gesa," kata Yu Timah.
" Mau ambil brp?" tanya bpk.X..."Enam Ratus Ribu,Pak.".."Kok banyak sekali,utk apa ,Yu?" tanya si bpk.X
Yu Timah tdk sgr menjawab..Menunduk, sambil tersenyum malu2. "Saya mau beli kambing qurban,Pak. Kalau 600rb saya tambahi dgn uang saya yg di tangan, cukup utk beli 1 kambing," kata Yu Timah. Bpk.X tahu Yu Timah amat menunggu tanggapannya. bahkan dia mengulang kata2nya krn bpk.X msh diam.Krn bpk.X lama tdk memberikan tanggapan mungkin Yu Timah mengira bpk.X tdk akan memberikan uang tabungannya. Padahal bpk.X lama terdiam krn sgt terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing qurban.
"Iya, Yu. Senin bsk uang Yu Timah akan diberikan sebesar 600rb. Tp Yu, sebenarnya kamu tdk wajib berqurban. Yu Timah bahkan wajib menerima qurban dr saudara2 kita yg lebih berada. Jadi apakah niat Yu Timah benar2 sdh bulat?" tanya bpk.X
"Iya Pak. Saya sdh bulat. Saya benar2 ingin berqurban. Selama ini memang saya hanya jd penerima. Tapi skg saya ingin jadi pemberi daging qurban," jawab Yu Timah
" baik Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di Bank kita," kata bpk.X
Wajah Yu Timah tampak benderang, senyumnya ceria, matanya berbinar lalu dgn langkah2 panjang Yu Timah pulang meninggalkan rumah bpk.X.

Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati lalu menginternalisasi ajaran qurban yg ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim??
Mengapa orang yg sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?

Pertanyaan ini muncul krn umumnya ibadah haji yg biayanya mahal itu tdk mengubah watak orangnya. Mungkin kita jg begitu. Ah, Yu Timah, kita jadi malu. Kamu yg belum naik haji, atau tdk akan pernah naik haji, namun kamu sdh jadi orang yg suka berqurban. Kamu sangat miskin, tp uangmu tidak.
Kau belikan makanan, televisi, atau pakaian yg bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing qurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing,tp kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yg sepertinya sdh berbau surga. Mudah2an kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

Sumber: http://www.mail-archive.com/fupm-ejip@usahamulia.net/msg01542.html, 22Des2006

Tidak ada komentar: