Waduhh... Krakatau Steel akan dijual oleh pemerintah mengikuti cerita penjualan Indosat terdahulu.
Bisa-bisa nanti PT. DI, Pindad mungkin atau yg lainnya dijual juga nantinya...Punya apa negara kita kelak..??
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memutuskan harga saham perdana (intial public offering/IPO) PT Krakatau Steel (KS) sebesar Rp850 per lembar saham. Perusahaan baja pelat merah itu berencana melepas saham sebanyak 3.155.000.000 (3,1 miliar).
Sedangkan pemegang saham KS sebelumnya telah menetapkan kisaran harga perdana saham pada level Rp800–Rp1.150 per lembar saham. KS sendiri sudah menyelesaikan roadshow ke empat negara yaitu Singapura, Hongkong, London, dan New York.
Namun, harga KS yang dibandrol Rp850 per saham itu dinilai beberapa pihak terlalu murah. Seperti Pengamat ekonomi Dradjad Wibowo menilai penetapan harga saham perdana Krakatau Steel sebesar tersebut terlalu murah di saat arus asing sedang ramai-ramainya masuk ke Indonesia.
"Harga Rp850 per saham itu bahasa Jawa-nya 'kebangeten'," ujar Dradjad di Jakarta, belum lama ini.
Menurut Dradjad, harga saham perdana Krakatau Steel seharusnya bisa lebih tinggi, karena saat ini arus capital inflow cukup deras ke negara sedang berkembang. Bahkan, ia mengaku heran dengan penetapan harga saham Krakatau Steel tersebut. Sebab saham yang sebetulnya kurang bagus pun masih dikejar investor asing. "Saham-saham yang lebih jelek dari Krakatau Steel di bursa juga ditubruk investor," ujarnya.
Mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) itu menilai penetapan harga saham Krakatau sulit diterima akal sehat. Dia mempertanyakan hasil roadshow direksi Krakatau, penjamin pelaksana emisi, dan agen penjualan asing yang hanya memperoleh harga saham perdana sebesar Rp850 per unit. "Dengan batas bawah Rp800 per saham, harga Rp850 itu cuma pantes-pantesan saja," ujar dia.
Idealnya, harga saham Krakatau Steel dilepas pemerintah sebesar Rp1.000 per unit. Harga itu bisa dicapai jika negosiator yang menawarkan saham Krakatau Steel cukup kapabel. "Selisih Rp50 saja negara kehilangan Rp153 miliar dari potensi dana IPO Krakatau Steel," kata Dradjad.
Gina Novria Nasution, analis PT Reliance Securities Tbk juga menilai, saham KS yang rencananya dilepas di harga Rp850 atau sekitar price to earning ratio (PER) 9,6 kali itu terbilang murah. Sebab, perseroan adalah BUMN dan banyak proyek-proyek yang menjanjikan.
"Belum apa-apa. rencana IPO KS saja sudah memberikan sentimen positif pada saham-saham sejenisnya," kata dia kepada VIVAnews di Jakarta.
Praktisi pasal modal Deni Hamzah bahkan menilai, saham BUMN itu sebaiknya dibandrol dengan kisaran Rp1.000 per saham. Sebab, selain milik pemerintah, dikabarkan perusahaan raksasa baja dunia, Ancelor Mittal akan serap saham IPO Krakatau. "Memang, idealnya atau harga wajar Krakatau adalah Rp1.000 per saham," ujarnya.
Sebetulnya, kurang menarik apa saham Krakatau sehingga sahamnya hanya ditawarkan dengan harga perdana Rp850?
Berikut, sekilas penjelasan mengenai perseroan. Krakatau Steel adalah salah satu produsen baja terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara yang memproduksi baja lembaran canai panas (HRC) dan baja lembaran canai dingin (CRC), serta batang kawat baja yang didirikan pada 27 Oktober 1971.
Fasilitas produksi baja terintegrasi perseroan meliputi fasilitas produksi pembuatan besi (ironmaking), dengan 10 dapur busur listrik (electric arc furnace/EAF) produksi baja, dan lima fasilitas casting baja, pabrik pegolahan baja (rolling mills), yang terdiri dari pabrik baja lembaran canai panas (hot strip mill), pabrik baja lembaran canai dingin (cold rolling mill), pabrik batang kawat (wire rod mill), pabrik baja tulangan (bar mill), pabrik baja profil (section mill), dan pabrik pipa baja (pipe mill).
Keunggulan bersaing perseroan di antaranya, KS memiliki posisi yang ideal terkait dengan prospek ekonomi Indonesia yang kuat serta tingginya permintaan produk baja, perseroan sebagai pemimpin pasar di Indonesia, basis pelanggan yang kuat dan terdiversifikasi, serta proporsi penjualan yang tinggi kepada penggunaan akhir.
Sementara itu, selama semester I-2010, pendapatan Krakatau naik menjadi Rp9 triliun dibandingkan periode yang sama 2009 yang hanya Rp7,8 triliun. Namun, laba bersih menurun menjadi Rp997,8 miliar dibandingkan tahun lalu yang terbukukan Rp1,1 triliun.
• VIVAnews

Tidak ada komentar:
Posting Komentar